Tampilkan postingan dengan label novelku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label novelku. Tampilkan semua postingan

Jumat

Pelangi Untuk KaZu (bag 2. tamat)

"memandangi pelangi malam sangat aku rindukan, Adrian"

Tak terasa hampir sepekan aku di indonesia, terpaksa aku yang bisa cuti 2 minngu harus segera kembali ke Jepang,  yang 1 minggu lagi? Itu untuk persiapan ujian dan bahan – bahan praktek. Selepas mengepack barang – barang yang penting, kami sekeluarga menunju bandara untuk memesan tiket.
Dengan menumpan kendaraan sewaan kami melintasi jalanan kota jakarta semua berjalan dengan lancar sampai suatu ketika,,

Dinnnn dinnn...!!!” sopir mobil yang mengendarai mobil yang kamu tumpangi membunyikan klakson dengan keras, karena di depan ada orang yang seenakny meyebrang jalan.
Ya Tuhannn...!!” Ibu berteriak...
ckiiittt...!!!!!, Bruak...!!” pandanganku Gelap, aku merasa ingin tidur..
nguing –nguing..!!” sayup – sayup tapi terdengar makin kencang kudengar seperti suara yang ku kenal, iya, sirene ambulance..
Ya Tuhan, apa yang telah terjadi..? bagai mana keluarga ku..?” gumanku dalam hati
......

dokter..!!” ku dengar suara wanita memecah keheningan yang aku rasakan
ada apa ini..?” tanya seorang dokter kepada perawat yang bergegas mendorong meja beroda
kecelakaan dok..., satu keluarga, semua selamat, tapi yang kecila lumayan parah, masih pingsan”. Pernyataan itu membuatku terkejut, aku masih belum percaya
mungkin ini halusinasiku saja”. Gumanku..
 “hei kamu, siapa namamu?” tanya dokter yang  memeriksaku.
Adrian”  jawabku lirih dan meringis menahan sakit, entah sejak kapan aku berada di ruangan ini,
Kazu..” kataku pelan
“Kazu..? adikmu itu”. Sahut dokter itu
“iya dimana dia?, Bapak, Ibu..?” aku panik, mataku pdih, ingin menangis.
tenang, Orang Tuamu baik – baik saja, mereka sedang mengurus administrasi, tapi adikmu..” Dokter itu berhenti meneruskan kata – katanya sembari menghela nafas..
“kamu yang sabar ya, kami akan berusaha yang terbaik...”
Kazu,,,,” aku ingin menangis, kali ini benar – benar ingin menangis hingga bibirku bergetas dan air mataku pun tumpah, aku menangis terisak
Ya Tuhan kenapa Kazu,, kenapa bukan aku...!!” aku ingin berlari dimana adikku itu berada tapi bahkan mengangkat kepala saja aku tak mampu. Tak lama kemudian orang tuaku menyusul keruanganku,

Yah, dimana Kazu..., Bu Kazu gimana..” ntah sejak kapan aku menjadi cengeng seperti ini. Aku sangat terpukul, aku tak bisa lagi berkata – kata.
Tenang dri, semua dokter sedang berusaha..”
Kazu gimana yah” aku memaksa, aku sangat ingin tahu apa yang terjadi dengan adikku
Kazu.., hiks...” Ibu menangis, air mataku semakin deras bercucuran, jantungku berdegub amat kencang waktu itu, tubuhku gemetaran.
Buu...” aku memelas,Sambil menahan air mata ayah menceritakan,
Karena kecelakaan itu..”
Sudah yah, jangan,” ibu melarang ayah bercerita.
Adri ingn tahu bu,, yah..” aku semaking cengeng.
karena kecelakaan itu, kepala Kazu terbentur kaca samping, itu membuat Kazu kemungkinan gegar otak, dan yang lebih parah Mungkin kalau Kazu selamat dia akan buta, tapi kalau dilihat keadaan sekarang menurut analisa dokter, kemungkinan kazu..” Ayah akhirnya tak kuat membendung air mata, ibu pun terisak..
Kazuu..” tubuh ku semakin lemas,
Yah aku ingin ke tempat kazu sekarang” mintaku pada bapak dengan terbata – bata,
Tapi kamu masih begini..” balas bapak
Adri nggak mau tau...” aku ingin berdiri tapi kepalaku sakit sekali,
Ya sudah pak, tidak apa – apa kita dorong bersama ke kamar Kazu”. Sahut dokter yang dari tadi berada di situ, kulihat matanya pun berkaca – kaca. Dan akhirnya aku di dorong ke kamar no 18, dimana Kazu berada. Hingga saat aku didorong, seisi rumah sakit memperhatikan kami.
Ya Tuhan..., Kazu...” tangisku makin menjadi ketika memasuki kamar itu, dan yang lebih membuat hatiku remuk adalah, kulihat dengan mata kepalaku sendiri tubuh gadis mungil itu terbaring tak berdaya, selang infus menusuk di tangannya dan tabung – tabung oksigen di sekelilingnya..
Kazuu...” aku berusaha meraih tangan mungil itu
Kakak...” kudengar suara yang amat ku kenal..
iya, kakak di sini..” aku berusaha meraih kepala kazu dan mengelus rambutnya yang lembut, entah kekuatan dari mana yang membuat aku sanggup melakukan hal itu.
kakak jangan nangis..,” Ya tuhan, aku sangat tiak bisa menahan air mataku ketika mendengar Kazu berkata demikian.
iya kakak nggak nangis lagi..” aku berusaha semampupu untuk tidak menangis, tapi keadaan sekelilingku yang membuat aku terpojok, Bapak, Ibu serta dokter dan perawat di ruangan itu meneteskan air mata.
Kakak janji ya  nanti kalau Kazu sembuh kakak mau ngajak Kazu ke jepang...” kata Kazu lirih, dan terbata, namun kulihat dari wajahnya ia berusaha untuk tegar.
kak, nanti kita lihat pelangi di jepang kan.., kaka gendong Kazu ya??”  kata kazu lagi
Iya kakak Janji, Kazu mau kemana aja kakak turutin tapi Kazu harus sembuha ya..”. Seisi kamar semakin tegang, perawat yang tak kuat menahan emosi pun meninggalkan kamar.
Janji ya kak..” Balas Kazu,suaranya makin pelan..
iya..” tangisku semakin pecah, begitu Bapak dan ibuku..
Kazu,..”
bib bib bib...”  terdengar alat pendeteksi detak jantung yang entah itu apa namanya mulai tidak teratur. Kulihat kazu terbatuk – batuk dan kejang..
dokter...” Ibuku terisak, kemudian seorang perawat menarik tempat tidurku, dan melakukan tindakan penyelamatan, awalnya dokter ingin menggunakan cara dengan alat kejut yang bentuknya seperti setrika tapi Bapak menolak, dan dokter itupun mengerti.
aku berusaha memahami, memang kita boleh mengharapkan keajaiban, tapi kita juga tidak boleh harus selalu mendapatkan keajaiban, Tuhan selalu punya rencana. Lagipula, aku lebih baik memotong leherku sendiri ketimbang melihat adkkiku yang masih kecil itu terlihat tersiksa, dipaksa untuk hidup dengan di kejut.
bib bi.....bb...” suara nyaring panjang terdengar,
“Kazu...” semakin sesak dadaku, semakin gelap pandanganku, ingin rasanya aku menyusul Kazu,,,
gelap, sesak, lagi – lagi aku merasa ingin tidur....

Sepi, sekarang hanya itu yang aku rasakan, sekarang aku  benar – benar kesepian, tak ada lag yang bisa membuatku semangat untuk pulang ke Indonesia. Setelah kematian Kazu, kami memutuskan untuk pindah ke jepang, bagaimana pemakaman Kazu?  aku sangat bersyukur di saat kesulitan bantuan datang kepada kami, ayah angkatku di Jepang membantu kepengurusan pemakaman Kazu, ya, Kazu kami makamkan Di jepang, tak jauh dari tempat yang aku janjikan.

         Kazu, sekarang waktuny,lihat langit, Kazu senangkan akhirnya bisa lihat Pelangi di jepang..” kataku sembari mengusap nisan Kazu, aku terduduk di makam Kazu dengan membawa snowglobe hanya itu yang tersisa dari Kazu.
Memandangi ke atas, membayangkan bagaimana senyum Kazu, Adikku yang amat ku sayang...

(HN'S')

READ MORE - Pelangi Untuk KaZu (bag 2. tamat)

Pelangi Untuk Kazu ( edisi cerbung. bag 1)

AJ201201120015


Kakak...!!!” pekik kecil suara itu menyambut kepulanganku dari Jepang, suara yang sangat aku rindukan.
kakak bawa oleh – oleh apa..?” tanya gadis kecil itu dengan mata yang berbinar.
adek, biar kakak masuk dulu dong” terdengar suara yang lebih tua dari dalam rumah. Ibuku.


        Hari ini aku baru tiba dari indonesia, namaku Adrian , alasan ku ke Jepang adalah karena pertukaran Pelajar, meski baru 5 tahun di sana aku sudah sangat merindukan kampung halaman, apalagi masakan –masakannya.
nah kazu sini deket kakak, kakak punya sesuatu ni dari Jepang,”
apa kak..” jawab Kazu girang
taraaa...” aku mengeluarkan bugkusan kecil,
apa ini..?” tanyanya lagi
buka aja” Kemudian Kazu membuka bungkusan, dan tiba – tiba wajahnya berubah merah dan matanya semakin berbinar,
wah Snowglobe, ada pelangi nya, makasih ya kak..” sontak gadis kecil itu memelukku,
“kamu tau gak apa bahasa jepangnya Pelangi..?” tanyaku
mmm, “ kazu menggelengkan kepala
Bahasa jepangnya adalah Niji..”
Niji..?” tanya Kazu penasaran
iya..” jawabku
kak Pelangi di sana sama nggak dengan pelangi disini..?” tanya Kazu lagi
“mmmm, sama gak ya...”
ah kakak...!” Kazu kesal bibirnya manyun, makin manis..
haha, iya Pelangi Disana sama tapi ada bedanya..”
apa itu kak” Kazu makin penasaran
Belum sempat aku menjawab Ibuku memanggil dari dalam, menyuruhku mandi dan ber istirahat.
nah Kazu ceritanya di sambung nanti ya, Ibu sudah manggil tu..”
ah...,”
eh kakak kan capek”. tegur ibu
nanti di lanjutin lagi ya kak..” kazu memohon
iya..” balasku,
**************** 
            Pukul 18.30 seusai beribadah dan merapikan pakaian yang aku bawa dari sepulang dari jepang, aku menuju ke ruang makan untuk makan malam bersama Ibu dan Bapak, serta Kazu, oh ya Kenapa adikku bernama Kazu? Itu Karena permintaan ku 5 tahun lalu saat itu aku baru saja meninggalkan Indonesia di saat Ibuku mengandung dia, Karena aku tidak bisa melihat kelahiran Kazu, Bapak dan Ibu memintaku untuk mengusulkan nama yang bagus. Entah kenapa yang ada di fikiran ku adalah Kazu, seperti nama anak laki – laki, yah tapi apa boleh buat, lagi pula tidak terlalu buruk, siapa tahu dia bisa menjadi perempuan yang Kuat.
Dri, Gimana keadaan di jepang sana?” tanya Bapak membuka pembicaraan
Baik yah”
mau lanjut kerja kan?” tanya bapak lagi.
mmmm, belum tahu yah, tergantung Ibu sama Bapak..
ibu sih setuju – setuju aja, ya kan Pak” tambah ibu, bapak hanya mengangguk.
kak” ceritain lagi dong gimana di jepang..” tukas Kazu yang dari tadi memperhatikan
eh habis kan dulu makananmu..!” tegur ibu
ah ibu..” Kazu manyun
Oh iya bagaimana kabar temanmu itu, ada yang meninggal?” tanya bapak
iya ibu ngeri kalau lihat berita di tivi itu, hi..” tambah ibu sambil membereskan piring di atas meja
oh alhamdullilah selamat semua yah, Cuma rumah yang kami tinggali sebagian rusak, dan banyak barang – barang yang terpaksa di ganti, kebetulan saat tanggal 11 maret itu kami sedang berada di lain kota..” jawabku panjang
oh syukurlah..” jawab bapak singkat.
kak ceritain lagi dong...” Kazu memelas.
iya, bu pak ... duluan ke depan ya,”
iya” jawab bapak sambil menikmati segelas kopi. Kazu mengikutiku dari belakang.
nah mau mulai dari mana..?. tanyaku
itu, bedanya pelangi di indonesia sama di jepang apa..?” Kazu penasaran,
oh ya di jepang ada pelangi malamnya..
ha pelangi malam...?” kazu terkejut tidak percaya..
“iya ini kakak ada fotonya” kataku sembari menujukan foto – foto di ponsel.
wah keren kak...” tukas kazu girang


“kak nanti ajak kazu ke jepang ya..”
“Iya kakak Janji..”


Malam itu aku bercerita banyak tentang jepang kepada kazu, senang rasanya ternyata kazu sangat ingin tahu tentang negeri sakura itu, namun sayang malam semakin larut dan kazu terlihat sudah mengantuk.
“kak Kazu ngantuk..” Kazu menguap
ya sudah, tidur sana..”
gendong..” minta Kazu manja, kemudian aku menggendong adikku yang masih berumur 5 tahun it.
kak nyanyiin lagu jepang dong,,, satu aja..”
nyanyi apa...” tanyaku
terserah.., kalo Lagu doraemon bisa kak?
doraemon ya? Nggak bisa”
“kalo shinchan kak..?”
“nggak bisa...”
ah kakak banyak gak bisanya...” kazu kesal,
ya udah kakak nyanyiin Kokorono tomo ya..”. Kazu meng iyakan.
Adata kara kurushiniwo...” aku mulai bernyanyi, kazu semakin terlelap hingga yang terdengar suara nafas yang teratur, dan aku meniggalkan kamarnya..
“clek.!” Aku mematikan lampu kamar kazu.
 


Klik disini untuk melanjutkan ke bagian 2.


************************************************************************
READ MORE - Pelangi Untuk Kazu ( edisi cerbung. bag 1)

Selasa

Kisah Momotaro

Zaman dahulu di suatu tempat hiduplah sepasang kakek-nenek. Setiap hari, kakek ke hutan mengumpulkan kayu bakar, sedangkan nenek ke sungai mencuci. Ketika nenek sedang mecuci, dari hulu sungai hanyutlah momo (buah peach) Nenek memungut momo itu.
 “Sepertinya, momo ini manis.” Nenek mengambil momo yang besar itu dan membawanya pulang.
Malam pun tiba. Kakek pulang memikul kayu bakar. “Nenek, nenek, kakek sudah pulang.”
“Kakek, ya, selamat datang. Hari ini, nenek menemukan momo yang besar di sungai. Sekarang ada di lemari…” kata nenek sambil mengeluarkan momo itu dan meletakkannya di atas talenan. Lalu, nenek menempelkan pisau dapur pada momo tersebut untuk membelahnya. Tapi, momo tersebut membelah sendiri dan dari dalamnya keluar anak laki-laki yang lucu. Begitu keluar anak laki-laki itu langsung menangis. Kakek dan nenek terkejut.
“A,aduh, gawat ini.” Kakek dan nenek panik. Setelah tangisnya reda kakek berkata, “Karena anak ini muncul dari dalam momo, kita harus menamainya Momotaro.” Begitulah Momotaro dinamai.
Kakek dan nenek memberi Momotaro bubur, ikan dan merawatnya dengan hati-hati. Kalau Momotaro diberi semangkuk nasi, dia akan makan semangkuk. Kalau Momotaro diberi dua mangkuk nasi, Momotaro akan makan dua mangkuk. Tak terasa Momotaro tumbuh jadi besar. Lalu, kalau dia diajari berhitung satu, maka dia dapat menghitung sampai sepuluh. Akibatnya Momotaro jadi terkenal. Selain itu, tenaganya makin lama makin kuat, dan tanpa disadari tak seorangpun anak-anak di sekitarnya dapat menyaingi kemampuan Momotaro. Pintar, kuat dan berbakat. Momotaro jadi anak yang hebat. Karena Momotaro sangat lucu, kakek dan nenek makin gembira membesarkannya.
Suatu hari, Momotaro menghadap kakek dan nenek, duduk di depan kakek dan nenek dan memohon sambil berkata, “Kakek, nenek. Karena aku sudah besar aku mau pergi ke pulau hantu untuk menaklukkan hantu yang suka merampas barang manusia. Tolong buatkan bekal kibi dango (sejenis kue mochi yang berisi kacang) paling enak di Jepang.”
Kakek dan nenek serentak berkata, “Kau masih kecil. Bagaimana pun juga kau masih kecil. Untuk apa kau ke pulau hantu, menangkap para hantu itu?”
Walaupun sudah dilarang, Momotaro tak peduli. “Kakek, nenek, aku memang sendirian, tapi 50 atau 100 ekor hantu bukan masalah buatku.”
“Kalau begitu baiklah,” kata kakek dan nenek.
Tak lama berselang Momotaro dibuatkan bekal kibi dango paling enak di Jepang. Kemudian Momotaro juga diberi ikat kepala hachimaki, celana lebar hakama dan pedang pendek yang baru. Lalu, di punggungnya juga di dipasangkan bendera bertuliskan ‘Momotaro terkuat nomor satu di Jepang’.
Momotaro berangkat ke pulau hantu.
Pada saat akan meninggalkan desa seekor anjing terus-menerus menyalak mengikuti Momotaro.
“Momotaro, Momotaro, kau mau pergi ke mana?”
“Ke pulau hantu, menaklukkan hantu.”
“Aku mau menemanimu ke pulau hantu asalkan kau mau memberiku sebuah kibi dango.”
“Baiklah, kalau begitu kau jadi anak buahku. Kalau kau makan kibi dango ini kekuatanmu akan betambah 1000 kali lipat,” kata Momotaro mengeluarkan sebuah kibi dango dari kantong dan menyerahkan pada anjing itu. Anjing jadi anak buah Momotaro.
Tak lama kemudian, burung gagak berkoak-koak mendekati Momotaro. Lalu, sama seperti anjing, Momotaro memberinya sebuah kibi dango dan menjadikan burung gagak itu anak buahnya. Lalu, beberapa saat kemudian, monyet berteriak-teriak mendekati Momotaro. Monyet pun menjadi anak buah Momotaro setelah diberi sebuah kibi dango.
Momotaro jadi jendral, anjing jadi pembawa bendera, monyet jadi pembawa pedang. Mereka melanjutkan perjalanan ke pulau hantu.  Sampailah Momotaro dan ketiga anak buahnya di depan gerbang yang hitam dan besar di pulau hantu. Langsung saja monyet mengetuk pintu gerbang.

Dari dalam terdengar suara. “Siapa itu?” Lalu keluarlah setan merah.
“Aku Momotaro terkuat nomor satu di Jepang. Aku ke pulau hantu ini untuk menaklukkan hantu. Enyahah kalian semua.”
Setelah mengatakan itu, Momotaro menghunus dan menusukkan pedangnya. Monyet bertarung dengan tombak, sedang burung gagak dan anjing dengan pedang. Anak-anak hantu yang ada di tempat itu ribut besar dan lari ke dalam. Di dalam banyak hantu-hantu berkumpul sedang pesta sake. Momotaro masuk ke dalam untuk mengejar anak hantu.
“Apa, Momotaro?” kata hantu-hantu linglung dan keluar dengan sempoyongan. Karena Momotaro dan ketiga anak buahnya sudah makan kibi dango yang membuat mereka jadi prajurit perkasa yang kekuatannya bertambah jadi 1000 kali lipat. Hantu dapat dikalahkan, dilempar-lempar dan ditusuk-tusuk.
“Kami sama sekali tak dapat mengimbangi. Ampunilah jiwa kami. Mulai hari ini kami tak akan berbuat jahat lagi.” Jendral hantu hitam memohon di hadapan Momotaro. Dari matanya yang besar mengalir setetes air mata. Kepalanya dibenturkan ke tanah meminta ampun.
“Baiklah, kalau memang kalian tak akan berbuat jahat lagi, maka jiwa kalian kuampuni.” Momotaro mengampuni hantu-hantu itu.
“Kami tak akan pernah berbuat jahat lagi. Semua barang-barang berharga ini kuserahkan padamu.” Janji jenderal hantu. Lalu memerintahkan bawahannya untuk memindahkan barang-barang rampasan yang ada di gudang, barang-barang yang selama ini dirampas dari manusia.
Momotaro menaikkan barang-barang itu ke atas kendaraannya dan menyuruh anjing, monyet dan burung gagak menariknya untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh untuk kakek dan nenek.
Peristiwa ini sampai juga ke telinga bidadari. Bidadari memberi Momotaro hadiah yang sangat banyak. Lalu, Momotaro hidup bahagia bersama kakek dan nenek.

READ MORE - Kisah Momotaro

Kamis

Merakit sampan mainan


Mengarjakan PR bersama adalah kegiatan rutin andi dan doni sepulang sekolah. Walaupun mereka tidak satu kelas, namun rumah mereka bersebelahan. Hal itu membuat mereka banyak menghabiskan waktu bersama. Baik saat belajar maupun bermain.
Hari ini pembagian raport smester genap.andi dan doni mendapat nilai yang memuaskan. Musim liburan pun disambut dengan gembira. Pada sore hari, andi dan doni sudah berencana untuk bermain layangan dilapangan yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah mereka. Hari ini giliran andi yang menjemput doni dirumahnya.
“ kamu sudah siap,don?”
“ sebentar, ya. Ibu pesan kalau mau main, harus nunggu kakak pulang dulu. Solanya ibu lagi kerumah nenek.”
“ kakakmu kemana?”
“ katanya keacara ulang tahun temannya. Kakak bilang sama ibu jam 4 sudah dirumah.”
Tanpa terasa sudah satu jam berlalu, tapi kakak doni belum pulang juga. Keduanya mulai resah, sebab waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Sementara langit sudah kelihatan mendung. Angin sepai sepoi berhambus lembut, tapi semakin lama semakin kencang. Paras andi dan doni terlihat tak bersemamgat karena gagal main layangan. Dengan cuaca begini, layangan tidak mungkin terbang.
Hujan rintik-rintik mulai membasahi halaman. Keduanya masih diam seraya berfikir. Sejenak doni beranjak dan menepuk bahu andi sebagai ajakan untuk mengikutinya.
“ayo kegudang, di”
“mau ngapain, don?”andi keheranan. Digudang doni, banyak tersimpan barang bekas yang sudah tidak terpakai. Doni membongkar barang,tanpa mengatakan apapun. Andi hanya menunggu sambil memperhatikan. Sudah seperempat gudang dibongkar dan doni belum menemukan apa yang ia cari. Akhirnya andi memutuskan untuk bertanya lagi.
“don, kamu cari apaan?  Aku, kan, bisa bantu.”
“karton bekas, di.”
Hanya beberapa langkah andi menuju kesatu sudut gudang dan kembali lagi dengan membawa karton bekas.
“kok, kamu enggak bilang dari tadi? Gerutu doni.”
“ lo, kan, kamu yang tidak mau bilang sama aku.”
Walau sudah menenmukan karton bekas, andi belum tau apa yang dipikirkan sahabatnya itu. Ia hanya mengikuti doni berjalan kehalaman belakang rumah. Ternyata huajan sudah membuat halaman belakang tergenang air.
“ disini tanahnya rendah, jadi cepat banjir.”kata doni.
Kini andi paham ide sahabatnya itu. “ ayo kita membuatnya!” seru andi dengan semangat.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membuat sampan mainan, juga tidak memakai bahan dan alat yang banyak. Hanya menggunakan karton, guting, dan perekat. Mereka membuat sampan masing-masing. Setelah selesai, sampan mereka diberi nama. Kemudian mereka meletakkan sampan digenangan air dan melihatnya terombang-ambing karena gelombang air. Memang bentuk sampannya tidak sempurna, namun mereka terlihat senang.
“ doniii, “ terdengar suara ibunya memanggil dari dalam.
“ iyaa, buuu,” doni menyahut sambil melangkah masuk.
“ tadi jadi main layangan?”
“ tidak, kakak pulangnya lama. Lagian hujan, bu.”
Karena asyik main, doni buru-buru permisi untuk melihat sampannya dihalaman belakang. Sayup-sayup terdengar suara ibunya dari dalam seperti sedang memarahi seseorang.
“ pasti itu kakak kena marah,” kata doni sambil cekikikan.
“ habis kakak kamu enggak tepat janji sih, don. Kita jadi gagal main layangan. Tapi enggak apa-apa juga, sekarang kalu hujan kita jadi punya mainan baru. Ya, kan?”
Doni mengangguk cepat tanda setuju pada sahabatnya. Sambil memperhatikan sampan mereka berlomba, mereka tertawa riang. Walau hujan turun, mereka tetap dapat bermain bersama. Bahkan dengan mainan baru yang mereka buat sendiri.
READ MORE - Merakit sampan mainan

Rabu

Kalau sial gak kemana

            Pagi ini aku terbangun lebih awal, badan ku berkeringan hingga membuat baju yangku pakai menjadi basah. Aku bermimpi buruk.
            “ Ah untung Cuma mimpi”. Gumanku dalam hati 
Selepas sholat subuh, aku bersiap – siap mandi dan membereskan kamar tidurku, saat ini kau sekolah di sekolah di dekat rumahku menjadi anak kos memnag harus  serba mandiri. Setelah sarapan aku langsung meluncur ke kampus.

            Oh ya namaku Reno, Reno Dwi Irawan. Kalau di lihat dari namaku aku memang anak ke dua dari tiga bersudara. Aku kuliah di slah satu universitas negeri di kota, sekarang aku semester 6. pagi itu pukul 8.30 mata kuliah english for spesific purpose di mulai, kulihat di sekeliling teman – temanku masih ada yang tampak mengantuk, dosenku adalah pak Yanto.
            “ Baiklah saudara – saudara sekalian, silahkan kumpulkan tugas yang teal saya berikan minggu kemarin”.
            Jleb, sontak kata – kata itu membuat aku terkejut, aku benar – benar lupa kalau tugas belum aku kerjakan.
            “ Maaf pak,tugas saya belum selesai..” kataku was –was
            “ Loh kan sudah saya ingatkan minggu kemarin untuk segera di selesaikan
            “ Iya pak ta..” belum selesai aku bicara pa Yanto memotong
            “ Ah sudah, kamu keluar
Ctar..!! bagai petir yang menyambar di siang hari, aku keluar kelas denan perasaan malu, kesal dan lain – lain yang bercampur aduk. Bagaimana tidak, masih pagi sudah di timpa sial. Seelah keluar kelas aku memutuskan untuk pergi ke kantin, kebetulan aku memang belum sarapan pagi ini..
            “ Bu saya pesan mie goreng ya…” kata ku kepada pemilik kantin
            “ Pakai telur..?” tanya ibu itu
            “ Iya..” jawabku singkat
Tak beberapa lama kemudian mi goreng lezat pesanan ku pun datang, aku makan dengan lahap nya. Tapi., lagi – lagi sepertinya hari ini aku sedang sial saat ku buka dompetku ternyata hanya aduang 5000 rupiah saja.
            “ Siallll..!!” wajahku pucat, aku bingung harus bilang apa, dan lagi saat itu kantin sedang ramai.., lengkaplah penderitaanku. Di dalam hati ku terus berdoa supaya kanting cepat sepi. Nampak nya doa ku terkabul, tak berapa lama kemudian kantin berangsur – angsur sepi, saat itu tinggal aku dan pemilik kantin itu yang tinggla. Setelah mengumpulkan mental kau pun nekat..
            “ Maaf bu, bukannya saya tidak mau membayar, tapi saya lupa kalau saya belum dapat kiriman” jantungku bedegub sangat kencang, keringat dingin membasahi punggungku meski sebenarnya kiriman itu sudah ada, tapi aku lupa menaruh ke dompet.
            “ Oh itu, tidak apa – apa, banyak juga kok yang berhutang..” jawab ibu bijaksana, rasanya aku seperti melihat malaikat.
            “ Syukurlah, maaf ya bu, besok saya bayar…” balasku lega , aku pun meniggalkan kantin.

            Rasanya hari ini memang berat, masih pagi sudah di timpa sia, aku baru sadar arti mimpuku semalam. Tapi sesungguhnya itu kesalahanku. Lain kali aku harus lebi teliti yang waspada untuk tidak meremehkan hal yang ku anggap sepele, tapi besar resikonya.





READ MORE - Kalau sial gak kemana

Minggu

Kisah si kancil dan siput

kancil bertemu siput

Pada suatu hari si kancil nampak ngantuk sekali. Matanya serasa berat sekali untuk dibuka. “Aaa....rrrrgh”, si kancil nampak sesekali menguap. Karena hari itu cukup cerah, si kancil merasa rugi jika menyia-nyiakannya. Ia mulai berjalan-jalan menelusuri hutan untuk mengusir rasa kantuknya. Sampai di atas sebuah bukit, si Kancil berteriak dengan sombongnya, “Wahai penduduk hutan, akulah hewan yang paling cerdas, cerdik dan pintar di hutan ini. Tidak ada yang bisa menandingi kecerdasan dan kepintaranku”.
Sambil membusungkan dadanya, si Kancil pun mulai berjalan menuruni bukit. Ketika sampai di sungai, ia bertemu dengan seekor siput. “Hai kancil !”, sapa si siput. “Kenapa kamu teriak-teriak? Apakah kamu sedang bergembira?”, tanya si siput. “Tidak, aku hanya ingin memberitahukan pada semua penghuni hutan kalau aku ini hewan yang paling cerdas, cerdik dan pintar”, jawab si kancil dengan sombongnya.
“Sombong sekali kamu Kancil, akulah hewan yang paling cerdik di hutan ini”, kata si Siput. “Hahahaha......., mana mungkin” ledek Kancil. “Untuk membuktikannya, bagaimana kalau besok pagi kita lomba lari?”, tantang si Siput. “Baiklah, aku terima tantanganmu”, jawab si Kancil. Akhirnya mereka berdua setuju untuk mengadakan perlombaan lari besok pagi.
Setelah si Kancil pergi, si siput segera mengumpulkan teman-temannya. Ia meminta tolong agar teman-temannya berbaris dan bersembunyi di jalur perlombaan, dan menjawab kalau si kancil memanggil.
kancil terus berlari meninggalkan siput
Akhirnya hari yang dinanti sudah tiba, kancil dan siput pun sudah siap untuk lomba lari. “Apakah kau sudah siap untuk berlomba lari denganku”, tanya si kancil. “Tentu saja sudah, dan aku pasti menang”, jawab si siput. Kemudian si siput mempersilahkan kancil untuk berlari dahulu dan memanggilnya untuk memastikan sudah sampai mana si siput.





Kancil berjalan dengan santai, dan merasa yakin kalau dia akan menang. Setelah beberapa langkah, si kancil mencoba untuk memanggil si siput. “Siput....sudah sampai mana kamu?”, teriak si kancil. “Aku ada di depanmu!”, teriak si siput. Kancil terheran-heran, dan segera mempercepat langkahnya. Kemudian ia memanggil si siput lagi, dan si siput menjawab dengan kata yang sama.”Aku ada didepanmu!”
Akhirnya si kancil berlari, tetapi tiap ia panggil si siput, ia selalu muncul dan berkata kalau dia ada depan kancil. Keringatnya bercucuran, kakinya terasa lemas dan nafasnya tersengal-sengal.
Kancil berlari terus, sampai akhirnya dia melihat garis finish. Wajah kancil sangat gembira sekali, karena waktu dia memanggil siput, sudah tidak ada jawaban lagi. Kancil merasa bahwa dialah pemenang dari perlombaan lari itu.
kancil yang kalah berjanji
tak akan sombong lagi
Betapa terkejutnya si kancil, karena dia melihat si siput sudah duduk di batu dekat garis finish. “Hai kancil, kenapa kamu lama sekali? Aku sudah sampai dari tadi!”, teriak si siput. Dengan menundukkan kepala, si kancil menghampiri si siput dan mengakui kekalahannya. “Makanya jangan sombong, kamu memang cerdik dan pandai, tetapi kamu bukanlah yang terpandai dan cerdik”, kata si siput. “Iya, maafkan aku siput, aku tidak akan sombong lagi”, kata si kancil.


READ MORE - Kisah si kancil dan siput

kisah cindelaras

         Raden Putra adalah raja Kerajaan Jenggala. Ia didampingi seorang permaisuri yang baik hati dan seorang selir yang cantik jelita. Tetapi, selir Raja Raden Putra memiliki sifat iri dan dengki terhadap sang permaisuri. Ia merencanakan suatu yang buruk kepada permaisuri. “Seharusnya, akulah yang menjadi permaisuri. Aku harus mencari akal untuk menyingkirkan permaisuri,” pikirnya.
Selir baginda, berkomplot dengan seorang tabib istana. Ia berpura-pura sakit parah. Tabib istana segera dipanggil. Sang tabib mengatakan bahwa ada seseorang yang telah menaruh racun dalam minuman tuan putri. “Orang itu tak lain adalah permaisuri Baginda sendiri,” kata sang tabib. Baginda menjadi murka mendengar penjelasan tabib istana. Ia segera memerintahkan patihnya untuk membuang permaisuri ke hutan.

       Sang patih segera membawa permaisuri yang sedang mengandung itu ke hutan belantara. Tapi, patih yang bijak itu tidak mau membunuhnya. Rupanya sang patih sudah mengetahui niat jahat selir baginda. “Tuan putri tidak perlu khawatir, hamba akan melaporkan kepada Baginda bahwa tuan putri sudah hamba bunuh,” kata patih. Untuk mengelabui raja, sang patih melumuri pedangnya dengan darah kelinci yang ditangkapnya. Raja menganggung puas ketika sang patih melapor kalau ia sudah membunuh permaisuri.

cindelaras dan ayamnya
           Setelah beberapa bulan berada di hutan, lahirlah anak sang permaisuri. Bayi itu diberinya nama Cindelaras. Cindelaras tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas dan tampan. Sejak kecil ia sudah berteman dengan binatang penghuni hutan. Suatu hari, ketika sedang asyik bermain, seekor rajawali menjatuhkan sebutir telur. “Hmm, rajawali itu baik sekali. Ia sengaja memberikan telur itu kepadaku.” Setelah 3 minggu, telur itu menetas. Cindelaras memelihara anak ayamnya dengan rajin. Anak ayam itu tumbuh menjadi seekor ayam jantan yang bagus dan kuat. Tapi ada satu keanehan. Bunyi kokok ayam jantan itu sungguh menakjubkan! “Kukuruyuk… Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra…”
Cindelaras sangat takjub mendengar kokok ayamnya dan segera memperlihatkan pada ibunya. Lalu, ibu Cindelaras menceritakan asal usul mengapa mereka sampai berada di hutan. Mendengar cerita ibundanya, Cindelaras bertekad untuk ke istana dan membeberkan kejahatan selir baginda. Setelah di ijinkan ibundanya, Cindelaras pergi ke istana ditemani oleh ayam jantannya. Ketika dalam perjalanan ada beberapa orang yang sedang menyabung ayam. Cindelaras kemudian dipanggil oleh para penyabung ayam. “Ayo, kalau berani, adulah ayam jantanmu dengan ayamku,” tantangnya. “Baiklah,” jawab Cindelaras. Ketika diadu, ternyata ayam jantan Cindelaras bertarung dengan perkasa dan dalam waktu singkat, ia dapat mengalahkan lawannya. Setelah beberapa kali diadu, ayam Cindelaras tidak terkalahkan. Ayamnya benar-benar tangguh.
ayam cindelaras memenangkan pertarungan
Berita tentang kehebatan ayam Cindelaras tersebar dengan cepat. Raden Putra pun mendengar berita itu. Kemudian, Raden Putra menyuruh hulubalangnya untuk mengundang Cindelaras. “Hamba menghadap paduka,” kata Cindelaras dengan santun. “Anak ini tampan dan cerdas, sepertinya ia bukan keturunan rakyat jelata,” pikir baginda. Ayam Cindelaras diadu dengan ayam Raden Putra dengan satu syarat, jika ayam Cindelaras kalah maka ia bersedia kepalanya dipancung, tetapi jika ayamnya menang maka setengah kekayaan Raden Putra menjadi milik Cindelaras.
            Dua ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi dalam waktu singkat, ayam Cindelaras berhasil menaklukkan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya. “Baiklah aku mengaku kalah. Aku akan menepati janjiku. Tapi, siapakah kau sebenarnya, anak muda?” Tanya Baginda Raden Putra. Cindelaras segera membungkuk seperti membisikkan sesuatu pada ayamnya. Tidak berapa lama ayamnya segera berbunyi. “Kukuruyuk… Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra…,” ayam jantan itu berkokok berulang-ulang. Raden Putra terperanjat mendengar kokok ayam Cindelaras. “Benarkah itu?” Tanya baginda keheranan. “Benar Baginda, nama hamba Cindelaras, ibu hamba adalah permaisuri Baginda.”
Bersamaan dengan itu, sang patih segera menghadap dan menceritakan semua peristiwa yang sebenarnya telah terjadi pada permaisuri. “Aku telah melakukan kesalahan,” kata Baginda Raden Putra. “Aku akan memberikan hukuman yang setimpal pada selirku,” lanjut Baginda dengan murka. Kemudian, selir Raden Putra pun di buang ke hutan. Raden Putra segera memeluk anaknya dan meminta maaf atas kesalahannya Setelah itu, Raden Putra dan hulubalang segera menjemput permaisuri ke hutan.. Akhirnya Raden Putra, permaisuri dan Cindelaras dapat berkumpul kembali. Setelah Raden Putra meninggal dunia, Cindelaras menggantikan kedudukan ayahnya. Ia memerintah negerinya dengan adil dan bijaksana.

READ MORE - kisah cindelaras

Bunga Terakhir.(bagian 1)


Kala senja semakin berlalu,malam pun segera menggantinya. nyayian suara jangkrik serta alunan katak berirama menambah dinginnya suasana malam ini membuat Dani semakin terlarut dalam lamunannya.
          “Andai saja dulu aku tak menyakiti hatinya, mungkin sekarang aku tak akan begini..”, tapi penyesalan memang selalu hadir belakangan. Dani masih bisa mengingat seorang gadis sahabatnya . Dani selalu merasa gembira seakan tak ada beban dalam fikirannya, yang ada hanya dia,dia dan dia…..hingga pada suatu hari….
          “Hallo dan, nanti kita bisa ketemuan ga’?..” kata Mirna
          “Eh..Gimana ya aku lagi sibuk nih kapan-kapan aja ya,sekrang gue lagi di cafe tempat biasa ad a temen dari luar negeri datang  indonesia…..”. Dani menghindar.
          “Ya udah kalo kamu memang sibuk banget,..”
          “Makasih ya kamu bisa ngertiin aku. met malem”. Dani sambil menutup telepon.
          Tapi Dani tak menyangka kalau dia ternyata menyusul.
          “Mirna, kenapa lo kesini…?”
          “Dan,lo..tega banget ama gue, kenapa sih lo ga pernah mau jujur sama gue kalo lo udah punya cewe lo tau  ga gue udah berharap banyak dari lo,tapi…tapi lo…akhhh..”Mirna menangis sambil memukul-mukul dada Dani.
          “Mirna dengerin gue dulu,gue tuh Cuma….”
          “Apa lo Cuma mau ngomong kalo lo sama dia Cuma temenan gitu, lo tega  gue gak nyangka Dan,…hu..hu…hu….”.
          “Mirna..,mirna tenang, ok gue jelasin tapi lo tenang dulu.” kata Dani mencoba menenangkan Mirna.
          “Gak ada yang perlu dijelasin, gue udah terlanjur kecewa ama lo mulai sekarang….mulai sekarang persahabatan kita putus sampe disini….”
          “Mirna……!!!!.” Dani berteriak memanggil Mirna yang berlari meninggalkan Dani. Dani terdiam menatap Mirna yang terus berlari  tiba-tiba.. ”Ckiiiit…Bruak”. mobil pick-up merah menabrak Mirna, membuat tubuh mungil itu tergeletak tak berdaya darah segar mengalir dikeningnya,disaat kritisnya Mirna mengatakan sesuatu
          “Dani, se…sebenarnya,,uhuk..sebenarnya gue cinta ama lo”. Kata Mirna dengan terbata dan mengucur darah dari mulutnya. hal itu membuat Dani menitikkan air matanya.
          “Mirna, gue juga cinta ama lo,tapi lo jangan mati…gue nggak mau kehilangan lo”.
Mirna tak menjawab
          “Mirna….bangun mirna…….” desah Dani dengan mendekap tubuh Mirna yang tak bernyawa.
          “Aku memang bodoh mengapa selama ini aku tak berterus terang padanya jika selama ini aku tak ada perasaan padanya, tapi mungkin dia sudah berharap banyak dari aku. ya tuhan mengapa kau menghukumku sedemikan rupa. dia terus membayangi hidupku dan membuat aku tersiksa.” sesal Dani.
          Malam semakin larut dan membuat Dani terlelap dari mimpinya……
          Setelah kejadian itu semakin membuat Dani sadar bahwa kenangan lalu biarlah berlalu,kini Dani berfikir bagaimana masa depannya nanti.
          Mentari telah terbangun dari pembaringanya pagi telah menyonsong,setelah sholat subuh dan merapikan kamar tidur Dani bersiap untuk memulai hari-harinya menuntut ilmu sebagai seorang pelajar itu memang kewajibannya.
          Teng……….!, bel sekolah telah berbunyi semua murid memasuki kelas masing - masing,begitu juga Dani menuju kelas XII IPA, adalah hal yang membanggakan apa lagi Dani Wijaya bersekolah di sekolah yang terkenal  “SMA Tunas Bangsa”  adalah sekolah paling populer dan sekolah paling berkualitas.
          Meski kelas unggulan tetapi sikap anak –anak tak ubahnya seperti berandalan, suasana kelas ramai sekali, ada yang saling melempar kertas, lalu ada siswa banci yang bergaulnya sama siswa cewek. tapi Dani hanya duduk dibangkunya sambil membaca buku pelajaran, tapi kadang ada anak yang menjahilinya.
          “Hallo cowo, .gue kangen ma you” kata Beni si bencong sambil mencolek pipinya
          “Udah deh dari pada lo gangguin gue,enakan lo main kuda-kudaan ma Toni”. bentak Dani sambil menunjuk anak yang duduk dipojok, dia nggak kalah aneh tampangnya culun pakai kacamata bulat tebal.
          Gelak tawa pun tak terelakkan membuat suasana kelas menjadi gaduh meski hari itu masih pagi. dan kelas baru bisa tenang ketika Pak Tora masuk kekelas.
          “Selamat Pagi anak-anak.” . sapa Pak Tora dengan Gaya garangnya yang khas memasuki kelas kami.
          “Selamat pagi pak…...”. jawab murid-murid kompak.
          “Anak-anak hari ini ada murid baru dikelas kita, coba nak perkenalkan namamu..”. kata Pak Tora mempersilahkan anak itu.
          “Ya pak...Nama saya Ranti, Ranti Sartika Dewi, saya pindahan dari jawa tengah.”.katanya dengan logat jawa yang kental.
          “Enten opo kowe rene..” kata salah seorang teman kami dengan bahasa jawanya.  suasana kelas menjadi ramai kembali karena kelucuanya semua tertawa.
          “Sudah..sudah Pak Tora menenangkan.”. kelas menjadi tenang kembali.
          “Ya sudah ,Ranti kamu duduk di samping anak itu, Dani sekarang kamu duduk sama Ranti ya..”
          “Ya Pak”. jawab Dani.dan Ranti duduk disamping Dani, dan mengulurkan tangannya mengajak berkenalan.
          “Hai, namamu Dani ya, aku Ranti, Ranti Sartika Dewi salam kenal”. kata Ranti sambil tersenyum.
          “Dani, DaniWijaya, salam kenal juga..” Dani menjawab sambil membalas senyuman.
nampak lesung pipit yang menghiasi pipi Ranti yang berkulit ayu itu,ia tampak cantik sekali, Dani sampai terpesona. tapi Dani kembali teringat masa lalunya..
          Bel istirahat berbunyi nyaring murid-murid berhamburan keluar kelas, ada yang menuju kantin perpustakaan. tapi Dani tidak, sebagai penanggung jawab kelas dan anggota pengurus OSIS Dani berkewajiban membimbing siswa baru. Dani dan Ranti berkeliling sekolah,banyak juga yang ditanyakan anak itu sampai membuat Dani sendiri bingung. yah tapi baguslah sekolah memang butuh orang yang aktif seperti dia” guman dani di dalam hati. Bel sekolah berbunyi kembali murid masuk kelas.sekarang jam pelajaran matematika di bimbing oleh pak Hartono,kepalanya botak hingga murid memberinya julukan Pak botak dari goa hantu,nggak sopan.
bersambung..
READ MORE - Bunga Terakhir.(bagian 1)